Site icon

Pascasarjana Poltekpar NHI Bandung Hadirkan Inovasi Wisata Gastronomi Berbasis Singkong di Kampung Adat Cirendeu

IMG-20260519-WA0013

LIPUTANBARU.COM, Kota Cimahi, Jawa Barat, 18 Mei 2026 — Politeknik Pariwisata NHI Bandung melalui Program Pascasarjana Perencanaan Pengembangan Pariwisata kembali menegaskan komitmennya sebagai institusi pendidikan vokasi pariwisata yang tidak hanya menghasilkan gagasan akademik, tetapi juga menghadirkan program terapan solusi dan kontribusi yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Sebagai isu penting “Dari Ketahanan Pangan Global Menuju Kemandirian Pangan Lokal, melalui Diseminasi Diversifikasi Produk Gastronomi Berbasis Singkong sebagai Implementasi Nyata Pariwisata Berdampak”. Di tengah meningkatnya tantangan global seperti krisis pangan, perubahan iklim, ketergantungan terhadap pangan impor, hingga ancaman melemahnya ketahanan pangan nasional, Kampung Adat Cirendeu hadir sebagai simbol kekuatan pangan lokal berbasis kearifan budaya. Masyarakat adat Cirendeu selama puluhan tahun konsisten menjadikan singkong sebagai pangan utama pengganti beras, sebuah praktik budaya yang kini dinilai semakin relevan sebagai model ketahanan pangan masa depan.

Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa Pascasarjana Poltekpar NHI Bandung melaksanakan kegiatan diseminasi bertajuk “Diversifikasi Produk Gastronomi Berbasis Singkong di Kampung Adat Cirendeu” sebagai implementasi nyata Mata Kuliah Pemberdayaan Masyarakat dan Kewirausahaan. Program ini disusun dan dipresentasikan oleh tim mahasiswa Pascasarjana yang terdiri dari Aditya Wicaksono, Antonia Ratih W., Hata Agung A., Firman Rahmat R., dan M. Abdul Rosad.

Kegiatan dihadiri lebih dari 50 peserta yang terdiri dari pelaku UMKM, ibu-ibu penggerak ekonomi lokal, pengelola wisata, Pokdarwis, pengelola media sosial desa, hingga masyarakat adat Cirendeu. Program ini tidak hanya berfokus pada pelatihan kuliner, tetapi membangun ekosistem wisata gastronomi berbasis budaya yang memiliki nilai ekonomi, edukasi, dan keberlanjutan.

Paparan para mahasiswa Pascasarjana dinilai sangat komunikatif, aplikatif, dan tepat sasaran. Materi yang disampaikan tidak berhenti pada teori, tetapi langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, khususnya dalam pengembangan produk UMKM berbasis pangan lokal. Antusiasme peserta semakin terlihat ketika sesi praktik pengolahan produk berlangsung.

Salah satu perhatian utama peserta tertuju pada demonstrasi pengolahan produk berbasis singkong yang dibawakan oleh Aditya Wicaksono. Dengan pendekatan profesional dan praktis, Aditya memperlihatkan teknik pengolahan pangan lokal menjadi produk modern yang memiliki standar penyajian dan nilai jual tinggi. Demonstrasi tersebut memperlihatkan bagaimana singkong dapat diangkat menjadi produk premium tanpa kehilangan identitas budaya lokalnya.

Program ini menjadi salah satu bentuk kebaruan pendekatan pembelajaran terapan pariwisata yang dikembangkan Poltekpar NHI Bandung, di mana mahasiswa tidak hanya melakukan observasi akademik, tetapi langsung menghadirkan model inovasi produk yang siap diterapkan masyarakat sebagai peluang usaha riil. Inovasi yang diangkat pun lahir dari potensi budaya masyarakat sendiri, sehingga memiliki kedekatan emosional dan peluang keberlanjutan yang lebih kuat.

Dalam kegiatan ini, singkong tidak lagi diposisikan hanya sebagai pangan tradisional, tetapi dikembangkan menjadi produk gastronomi modern bernilai ekonomi tinggi melalui inovasi muffin mocaf berbahan dasar tepung mocaf (Modified Cassava Flour). Produk ini dinilai memiliki potensi besar sebagai kuliner khas sekaligus oleh-oleh unggulan Kampung Adat Cirendeu.

Berbagai varian produk diperkenalkan kepada masyarakat, di antaranya Mocaf Palm Sugar Muffin, Coconut Pandan Muffin, Red Velvet Mocaf Muffin, dan Mocaf Chocolate Muffin. Seluruh produk dirancang dengan pendekatan modern, baik dari sisi rasa, tampilan, maupun kemasan, sehingga mampu menjangkau pasar wisatawan yang lebih luas, khususnya generasi muda dan wisatawan minat khusus gastronomi.
Selain praktik pengolahan produk, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai strategi branding destinasi, desain kemasan produk, promosi digital, storytelling budaya, serta penguatan media sosial untuk mendukung pengembangan wisata gastronomi berbasis komunitas.

Dosen pengampu sekaligus evaluator kegiatan, Dr. Wawan Gunawan atau yang lebih dikenal Ki Dalang Wawan Ajen menegaskan bahwa kekuatan gastronomi lokal harus dibangun sebagai identitas destinasi wisata yang berkelanjutan.

“Kampung Adat Cirendeu memiliki kekuatan budaya yang sangat autentik. Ketika budaya pangan lokal diolah menjadi produk gastronomi modern yang memiliki nilai ekonomi, maka yang dibangun bukan hanya produk, tetapi identitas destinasi. Inilah kekuatan wisata masa depan: budaya lokal yang hidup tanpa kehilangan esensi dan nilai tradisinya, otentik, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat dan nilai tambah langsung bagi masyarakat,” ujar Dr. Wawan Gunawan.

Sementara itu, Dr. Sukmadi menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bukti nyata bagaimana perguruan tinggi harus hadir memberikan solusi konkret bagi masyarakat.

“Kampus tidak boleh hanya menghasilkan teori dan diskusi akademik. Program seperti ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi pariwisata harus mampu menciptakan dampak langsung bagi masyarakat. Ketika masyarakat memperoleh keterampilan baru, memahami strategi pemasaran, mampu mengembangkan produk, dan membuka peluang peningkatan ekonomi, di situlah kampus berdampak benar-benar hadir,” jelas Dr. Sukmadi atau lebih akrab Adi Dosteng.

Menurutnya, kekuatan utama program ini terletak pada kebermanfaatannya yang nyata bagi masyarakat dan UMKM lokal. Selain meningkatkan kapasitas produksi masyarakat, kegiatan ini juga membuka wawasan baru mengenai pentingnya inovasi produk, kemasan modern, pemasaran digital, hingga pengembangan wisata gastronomi berbasis komunitas.

Ketua Adat Cirendeu, Abah Widi, turut memberikan apresiasi terhadap pendekatan yang dilakukan mahasiswa Pascasarjana dan dosen Poltekpar NHI Bandung. “Singkong bagi masyarakat Cirendeu bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari filosofi hidup dan simbol kemandirian pangan. Kami merasa bangga karena budaya ini tidak hanya dijaga, tetapi juga dikembangkan menjadi inovasi yang bisa diterima generasi sekarang,” ungkap Abah Widi.

Kesan positif juga datang dari para peserta kegiatan yang merasakan langsung manfaat program tersebut. Rai, salah satu pelaku UMKM Cirendeu, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari pelatihan tersebut. “Biasanya singkong hanya diolah secara sederhana. Setelah mengikuti pelatihan ini, saya jadi punya gambaran bagaimana membuat produk yang lebih modern dan memiliki nilai jual lebih tinggi. Ini sangat membuka peluang usaha baru bagi kami,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Cirendeu, Kang Yana, menilai program ini sangat strategis untuk mendukung pengembangan wisata di Cirendeu. “Program dari Pascasarjana Poltekpar NHI Bandung ini sangat tepat sasaran karena bukan hanya bicara wisata, tetapi langsung memberikan keterampilan yang bisa diterapkan masyarakat. Ini menjadi penguatan nyata bagi wisata gastronomi Cirendeu,” katanya.

Apresiasi serupa disampaikan Teh Endah dan Risma yang menilai materi mengenai branding dan promosi digital sangat membantu pengembangan UMKM lokal.

“Kami jadi memahami bagaimana produk lokal harus dikemas lebih menarik dan dipromosikan melalui media sosial agar lebih dikenal wisatawan. Program ini benar-benar memberikan ilmu yang bisa langsung diterapkan,” ungkap mereka.

Hadir pula beberapa mahasiswa dari Telkom Bandung yang sedang melakukan Praktek kerja Lapangan di Desa Adat Cirendeu, mereka sangat antusias ikut berperan aktif dalam diskusi dan tanya jawab yang tentu sangat memberikan banyak masukan positif bagi kemajuan dan kemandirian Desa Adat Cireundeu.

Melalui program ini, Politeknik Pariwisata NHI Bandung berharap Kampung Adat Cirendeu dapat berkembang menjadi model pengembangan wisata gastronomi berbasis ketahanan pangan lokal yang mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat. Program ini sekaligus menjadi bukti bahwa perguruan tinggi pariwisata memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat melalui inovasi, pemberdayaan, dan penguatan budaya lokal yang berkelanjutan.(*)

Exit mobile version