Site icon

Aksi Memukau Dalang Cilik Aden Azka Asstroberi Putra di Milad ke-13 Pesantren Al Kasyaf

IMG-20260604-WA0017

LIPUTANBARU.COM, Kabupaten Bandung — Suasana malam yang sejuk di kawasan perbukitan kaki Gunung Manglayang menjadi saksi kemeriahan perayaan Alkasyaf Universe: Milad ke-13 Pesantren Yatim dan Dhuafa Al Kasyaf yang berlokasi di Blok Sukamaju, Cimekar, Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Pesantren yang berdiri di atas hamparan perbukitan hijau dengan panorama alam asri ini tampak dipadati para santri, masyarakat, tamu undangan, serta pemerhati budaya. Berbagai seni pertunjukan santri ditampilkan sebagai bagian dari perayaan milad. Namun, puncak perhatian publik tertuju pada penampilan istimewa seorang dalang cilik berbakat, Aden Azka Asstroberi Putra (9 tahun), atau yang akrab disapa Aden Azka Ajen. Ia merupakan dalang cilik binaan Maestro Wayang Ajen, Ki Dalang Wawan Ajen.

Malam itu, aula serbaguna pesantren berubah menjadi ruang perjumpaan antara seni, budaya, pendidikan, dan dakwah yang menyatu dalam sebuah pertunjukan wayang golek yang memukau.

Ngoprek Wayang Golek: Belajar Budaya dengan Menyenangkan

Acara diawali dengan sesi edukatif bertajuk Ngoprek Wayang Golek yang menampilkan dua dalang cilik lainnya, yakni Aden Azlan Ajen (5 tahun) dan Icen Ajen (9 tahun), dengan pendampingan Dalang Aming Ajen.

Melalui bahasa Sunda dan Indonesia yang komunikatif, para dalang cilik ini memperkenalkan berbagai aspek dasar dunia pewayangan kepada para santri. Mereka memperagakan teknik memainkan wayang, mengenalkan karakter tokoh, hingga memperlihatkan bagaimana sebuah cerita dihidupkan melalui gerak, suara, dan ekspresi.

Antusiasme para santri begitu tinggi. Gelak tawa, tepuk tangan, dan rasa penasaran terlihat sepanjang sesi berlangsung, bahkan beberapa santri berkesempatan mencoba memainkan wayang secara langsung. Kegiatan ini menjadi bentuk edukasi budaya yang efektif sekaligus upaya mengenalkan warisan Nusantara kepada generasi muda sejak dini.

Cepot Masantren dalam Lakon Prabu Kalamurka

Memasuki pukul 20.00 WIB, suasana aula semakin khidmat ketika Dalang Cilik Aden Azka Asstroberi Putra tampil membawakan pertunjukan wayang golek garap padat berjudul “Cepot Masantren dalam Lakon Prabu Kalamurka”. Naskah dan penyutradaraan pertunjukan ini digarap langsung oleh Ki Dalang Wawan Ajen.

Sebagai pembuka, Aden Azka melantunkan Murwasuci, doa pembuka dalam tradisi sanggit pedalangan Wayang Ajen. Doa ini dipanjatkan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar pertunjukan berjalan lancar dan membawa keberkahan.

Sejak kemunculan pertamanya di panggung, perhatian penonton langsung tersita. Dengan penuh percaya diri, Aden Azka menghidupkan tokoh-tokoh wayang melalui gerak yang lincah, ibing (tarian) yang dinamis, sabetan perang yang cekatan, suluk yang sesuai laras, serta antawacana (dialog) yang jelas dan komunikatif.

Tidak hanya piawai memainkan wayang, ia juga berhasil menghadirkan humor-humor segar yang mengundang gelak tawa. Pesan-pesan moral mengenai pendidikan, akhlak, kehidupan pesantren, dan nilai kemanusiaan disampaikan secara ringan namun bermakna lewat puisi, pantun, serta dialog tokoh. Penonton berkali-kali memberikan tepuk tangan meriah, terutama saat adegan tokoh panakawan seperti Cepot, Dawala, dan Gareng muncul.

Apresiasi Tinggi dari Berbagai Kalangan

Penampilan matang Aden Azka mendapatkan apresiasi luas dari pengasuh, pengelola, pengajar pesantren, hingga masyarakat umum.

Pengasuh Pesantren Yatim dan Dhuafa Al Kasyaf, Prof. Dr. KH. Geovani Van Rega (Mang Geo), mengaku sangat terharu dan bangga.

“Saya sangat kagum. Di usia yang masih sangat muda, Aden Azka mampu menampilkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan menginspirasi. Wayang golek yang dibawakannya sarat nilai akhlak, dakwah, dan pendidikan karakter,” ujarnya.

Pengelola Pesantren, Bunda Hj. Christiyanti Nour, M.A., turut menyampaikan rasa bahagianya.

“Luar biasa. Anak-anak terlihat sangat bahagia belajar sambil menikmati pertunjukan. Aden Azka bukan hanya memainkan wayang, tetapi juga menyampaikan pesan kehidupan yang sangat bermakna.”

Apresiasi senada datang dari salah satu pengajar, Miss Dini Destari, serta pengunjung bernama Dedi (45) yang mengaku terkejut dengan kualitas pertunjukan.

“Awalnya saya mengira ini hanya pertunjukan anak-anak biasa. Tetapi gerakan wayangnya sangat hidup dan punya greget, padahal dalangnya masih berusia 9 tahun,” kata Dedi.

Kesan mendalam juga dirasakan oleh para santri. Avicenna Caesar Zeroun Rega dan Hasan Ismail mengaku senang karena bisa belajar tentang kebaikan, menghormati orang tua, dan nilai agama lewat cara yang seru dan mudah dipahami.

Pesantren Al Kasyaf Model Pendidikan Berbasis Budaya, Lingkungan, dan Keberlanjutan

Keberhasilan acara ini tidak terlepas dari visi besar Pesantren Yatim dan Dhuafa Al Kasyaf yang terus berkembang sebagai model pendidikan pesantren inovatif, kreatif, adaptif, dan implementatif. Di bawah kepemimpinan Prof. Dr. KH. Geovani Van Rega, pesantren ini mengintegrasikan pendidikan keagamaan dengan aspek sosial, budaya, dan lingkungan.

Pesantren Al Kasyaf memandang seni budaya sebagai media pembentukan karakter dan identitas bangsa, sekaligus sebagai potensi penggerak ekonomi.

“Saya bersyukur dipertemukan dengan Dr. Wawan Gunawan, dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung. Beliau sangat responsif dalam mengimplementasikan program kampus berdampak melalui pengabdian masyarakat. Kami bersinergi memberdayakan santri untuk mengemas seni budaya menjadi atraksi wisata. Kedepannya, Al Kasyaf akan dikembangkan menjadi destinasi wisata religi yang menghadirkan aktivitas seni budaya, edukasi, dan ekonomi kreatif (ekraf),” ungkap Mang Geo.

Selain fokus pada budaya, Al Kasyaf juga berkomitmen pada gerakan ramah lingkungan (eco-pesantren). Para santri dididik untuk memiliki karakter peduli lingkungan, mencintai alam, dan hemat sumber daya sebagai bagian dari ibadah.

Membangun Peradaban dari Kaki Gunung Manglayang

Perayaan Milad ke-13 Pesantren Yatim dan Dhuafa Al Kasyaf membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi pusat peradaban yang mengintegrasikan spiritualitas, pendidikan, budaya, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu ekosistem yang utuh.

Penampilan memukau Aden Azka Asstroberi Putra menjadi simbol keberhasilan regenerasi budaya yang diwariskan oleh Ki Dalang Wawan Ajen dari Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi. Di tengah derasnya arus globalisasi, kehadiran generasi muda yang mencintai budaya bangsa menjadi harapan besar bagi masa depan Indonesia.

Dari kaki Gunung Manglayang, Al Kasyaf menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar agama, melainkan pusat inovasi sosial yang terus menebarkan manfaat bagi masyarakat luas.(*)

Exit mobile version