LIPUTANBARU.COM, JAKARTA – Pemerintah bergerak cepat merespons beragam hoaks yang menyerang Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu isu yang paling ramai di media sosial adalah tuduhan bahwa peralatan makan MBG diproduksi menggunakan minyak babi. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindaiana langsung turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan ke pabrik terkait di Cikarang.
Dalam sebuah podcast yang membahas maraknya hoaks seputar MBG, Khairil Haesy menjelaskan bahwa respons pemerintah tergolong cepat dan tepat. “Dia langsung ngecek ke pabriknya di Cikarang dan memang enggak ada yang pakai minyak babi. Responnya cepat dan tidak asal membantah,” ujarnya.
Menurutnya, langkah BGN tidak hanya berupa klarifikasi, tetapi juga observasi langsung di lapangan untuk memastikan tidak ada bahan nonhalal dalam proses produksi. “Itu sikap profesional. Karena isu seperti ini sensitif dan harus segera ditangani,” lanjutnya.
Hoaks Soal Menteri Bahlil dan Ahli Gizi India
Hoaks lain yang sempat beredar adalah foto Menteri Bahlil Lahadalia yang diklaim bertemu ahli gizi India. Hasil pemeriksaan tim pemeriksa fakta menunjukkan foto tersebut hasil rekayasa digital menggunakan AI.
“Foto itu editan. Wajah ditempel di tubuh orang lain. Banyak yang percaya karena tampilannya dibuat seolah autentik,” ungkap Reza Habsyi, narasumber dalam podcast tersebut. Temuan ini memperlihatkan bahwa hoaks MBG tidak hanya menyerang substansi program, tetapi juga figur pejabat.
Tuduhan Minyak Babi: Hoaks Paling Sensitif
Di Instagram, beredar unggahan yang menuduh bahwa ompreng—wadah makan di program MBG—mengandung minyak babi. Hoaks ini dinilai sengaja dibuat untuk mendiskreditkan kehalalan program.
Namun, Kepala BGN bergerak cepat. Ia mengunjungi pabrik produksi di Cikarang, memeriksa langsung proses pengolahan, dan memastikan tidak ditemukan penggunaan minyak babi.
“Isu ini sensitif. Dan langkah cepat Pak Dadan untuk turun langsung itu patut diapresiasi,” kata Reza Habsyi.
Evaluasi MBG dan Klarifikasi Kasus Keracunan
Pemerintah juga mengonfirmasi bahwa sejumlah kasus keracunan yang sempat dikaitkan dengan MBG bukan disebabkan bahan makanan, melainkan keberadaan bakteri Escherichia coli. Hal ini diungkapkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Selain itu, beberapa SPPG disebutkan tidak menjalankan SOP secara lengkap sehingga memperoleh teguran dari BGN. Pemerintah menilai temuan tersebut bagian dari evaluasi rutin untuk memastikan kualitas program.
Hoaks Positif Juga Berbahaya
Podcast tersebut juga menyoroti fenomena “hoaks positif”, yakni informasi palsu yang seolah mendukung pemerintah, namun secara tidak langsung dapat menjadi bumerang. Salah satunya adalah klaim bahwa kasus MBG sengaja diciptakan untuk menjatuhkan Presiden Prabowo menjelang pidatonya di PBB.
“Tidak ada logikanya. Hoaks positif tetap berbahaya karena merusak kredibilitas program,” tegas narasumber.
Program MBG Dapat Apresiasi Publik
Meski diterpa hoaks, program MBG dinilai membawa banyak manfaat. Selain meningkatkan gizi anak, MBG ikut menggerakkan UMKM, membuka lapangan kerja, dan menghidupkan dapur-dapur penyedia makanan.
Beberapa daerah, termasuk wilayah timur Indonesia, disebut memberikan respons positif. Anak-anak di Papua, misalnya, disebut antusias menerima makanan bergizi dari program pemerintah.
“Kalau saya memberi nilai, program MBG ini delapan,” kata narasumber, menggarisbawahi bahwa program ini baru berjalan dan masih membutuhkan penyempurnaan.



