LIPUTANBARU.COM//JAKARTA – Tren perlambatan ekonomi global melanda di tahun 2025 ini yang diakibatkan berbagai faktor seperti konflik yang masih terjadi di sejumlah negara, seperti Ukraina-Rusia, Timur Tengah, India-Pakistan, maupun penetapan tarif dagang oleh Amerika Serikat.
Penurunan kondisi perekonomian dirasakan oleh seluruh negara di dunia, termasuk di Amerika Serikat. Kondisi penurunan ketenagakerjaan dan konsumsi rumah tangga terjadi di Amerika Serikan akibat melemahnya ekonomi domestik.
Kenaikan harga energi dan gangguan mata rantai pasokan internasional akhirnya memicu kenaikan biaya produksi di banyak negara di dunia.
Kemudian juga tersendatnya investasi ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sebagai imbas penerapan kebijakan suku bunga tinggi dari Amerika Serikat dan Eropa, termasuk Indonesia.
Menyoal situasi ketidakpastian global ini, Sekretaris Center for Information and Development Studies Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (CIDES ICMI) Hery Margono mengungkapkan, untuk ekonomi Indonesia dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor perdagangan dan energi, tetapi juga terhadap stabilitas nilai tukar, inflasi, dan investasi jangka panjang.
Baca juga: KLH Sebut Koordinasi Lintas Sektor Terlaksana Baik Menuju Realisasi Waste to Energy
Menurut Hery, konflik Rusia–Ukraina secara langsung mempengaruhi pasokan energi global, terutama minyak dan gas alam, sehingga meningkatkan beban subsidi energi dan memperlebar defisit fiskal.
“Ketidakpastian global menyebabkan investor cenderung mencari aset aman seperti dolar AS sehingga rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS. Efek lanjutannya biaya impor meningkat, dan utang luar negeri dalam dolar menjadi lebih mahal untuk dibayar,” ujar Hery, Minggu (26/10/2025).
Hery menuturkan, negara maju sering memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam perdagangan dan investasi. Oleh sebab itu, lanjut Hery, Indonesia perlu memastikan bahwa setiap kerja sama didasarkan pada prinsip resiprositas (timbal balik yang adil) dan setara.
“Memperkuat diplomasi ekonomi multilateral untuk memperjuangkan sistem perdagangan internasional yang lebih inklusif, mendorong alih teknologi dan inovasi, kolaborasi dalam transisi hijau ekonomi berkelanjutan, dan lainnya,” ucap Hery.
Baca juga: Pemerintah Lakukan Upaya Sistemik Jaga Kondisi Ekonomi Saat Gejolak Global
Hery menyarankan agar pemerintah Indonesia menerapkan strategi yang komprehensif dan berkelanjutan, mencakup kebijakan fiskal, moneter, industri, dan sosial, guna memperkuat perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global.
“Tujuannya adalah meningkatkan daya saing dan kemandirian ekonomi nasional agar menjaga stabilitas ekonomi,” papar Hery.
Lebih khusus Hery menyebut dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional dapat dilakukan antara lain dengan memperkuat ketahanan energi dan pangan, mendorong hilirisasi dan industrialisasi, mengembangkan ekonomi digital dan inovasi, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Sekadar informasi, selama beberapa tahun terakhir pemerintah Indonesia menjalankan kebijakan ekonomi secara disiplin dan kehati-hatian. Defisit fiskal dijaga agar tetap terkendali, inflasi ditahan melalui kombinasi kebijakan harga dan subsidi, serta konsumsi domestik dijaga agar roda ekonomi terus berputar.(*)



