Ekonom: Danantara Perlu Beli SBN, Namun Harus Belajar ke SWF Maju agar Strategis

LIPUTANBARU.COM//JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memastikan menaruh sebagian dananya pada pasar keuangan, antara lain salah satunya Surat Berharga Negara (SBN).

Langkah Danantara itu dilakukan sebagai bagian strategi diversikasi untuk menjaga stabilitas serta likuiditas portofolio investasi nasional.

Melalui upaya tersebut, nantinya dana-dana yang dikelola oleh Danantara bukan semuanya terpusat untuk satu proyek strategis. Namun ada juga yang menjadi simpanan ke dalam aset yang likuid dan dapat dimanfaatkan ketika diperlukan.

Menurut ekonom senior INDEF Berly Martawardaya, sumber pendanaan dimiliki Danantara berasal dari suntikan APBN, deviden BUMN, dan belanja BUMN. Sementara itu investasinya mempunyai 2 tipe yakni direct ke BUMN dan portfolio

“Namun tak seluruh investasi portfolio dapat dicairkan setiap saat. Dengan begitu amat wajar sehingga dapat return lebih tinggi,” ucap Berly, Selasa (21/10/2025).

Sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2025 tentang Perubahan Keempat UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dijelaskan bahwa modal Danantara bersumber dari penyertaan modal negara dan atau sumber lain.

Penyertaan modal negara berasal dari dana tunai, barang milik negara yang berasal dari APBN, atau perolehan lain yang saham, dan saham milik negara.

Berly mengungkapkan, Danantara sebagai lembaga investasi dari aset negara yang dipisahkan maka risk apetitte di investasi portfolionya cenderung low to medium. Sehingga tidak akan mencari highest return karena risikonya tinggi.

“Danantara akan mix low risk instrument seperti SBN dan obligasi negara lain dengan obligasi perusahaan swasta bereputasi tinggi. Untuk menaikkan return bisa investasi di saham blue chip walau perlu mulai dari sedikit dulu,” papar Berly.

Lebih lanjut Berly mengemukakan, dengan dana yang dikelolanya dan analisis risiko tadi, justru memang seharusnya Danantara membeli SBN. Hal itu sebab SBN tergolong very low risk.

Berly mengingatkan agar Danantara juga mengoptimalkan dan menyeimbangkan komponen portfolio amtara obligasi negara, swasta, dan saham

Menyoal penempatan dana di SBN yang bisa digunakan kelak untuk pembiayaan proyek nasional, Berly menilai itu ibarat ‘kantong kanan berutang pada kantong kiri’.

“Namun selain sumber utangnya dari dalam atau luar negeri, juga penting tingkat bunga (cost of fund) dan risiko nilai tukar. Hutang dari luar negeri dengan suku bunga dan risiko nilai tukar rendah lebih ringan membayarnya daripada hutang dalam negeri yang bunganya tinggi,” papar Berly yang juga staf pengajar di FEB UI.

Berly menyarankan, Danantara melakukan benchmark ke Sovereign Wealth Fund (SWF) negara lainnya sudah beroperasi cukup lama serta membawa banyak manfaat finansial dan strategis yang tinggi pada negaranya, seperti Temasek Singapura, Khazahah Malaysia, dan Qatar Investment Authority (QIA).(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *