
LIPITANBARU.COM, Bandung Barat – Di tengah sejuknya udara pegunungan dan hamparan hijau lereng Burangrang Selatan, sebuah gerakan perubahan perlahan tumbuh dari Desa Cipada 1, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat. Di desa yang dikelilingi kebun kopi, bentang alam asri, dan denyut budaya Sunda yang masih hidup itu, transformasi digital mulai menemukan bentuk nyatanya.
Bukan melalui proyek industrialisasi besar, melainkan dari ruang sederhana di Aula Kantor Desa Cipada, Selasa (19/5/2026), ketika mahasiswa Program Studi Pascasarjana Magister Terapan Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung menggelar kegiatan Diseminasi Pengembangan Masyarakat Kewirausahaan bertajuk:
“Pelatihan Digital Marketing: Penguatan Kapasitas Digital UMKM Menuju Kemandirian Ekonomi Berkelanjutan di Desa Wisata Cipada.”
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum penting soft launching marketplace digital desawisatacipada.com, sebuah rumah digital yang dirancang sebagai etalase virtual bagi produk UMKM lokal, paket wisata edukasi, kekayaan seni budaya tradisional, hingga potensi ekonomi kreatif Desa Cipada.
Namun lebih dari sekadar peluncuran platform digital, kegiatan ini menjadi simbol lahirnya paradigma baru pembangunan desa wisata: bahwa desa tidak boleh lagi hanya menjadi objek pembangunan atau penonton dalam arus ekonomi digital global, melainkan harus tampil sebagai subjek utama yang mandiri, kreatif, inovatif, adaptif, dan memiliki daya saing berkelanjutan.
Desa Cipada: Permata Di Kaki Burangang Selatan
Desa Cipada merupakan salah satu lanskap pedesaan yang menyimpan kekuatan ekologis, sosial, budaya, dan ekonomi yang sangat besar. Dikelilingi bentang pegunungan yang masih alami, desa ini memiliki potensi wisata berbasis alam, budaya, dan edukasi yang sangat menjanjikan.
Hamparan perkebunan Kopi Arabika Burangrang Selatan (Bursel), aliran sungai alami, kontur perbukitan, Situ Dano, Bukit Senyum, hingga kehidupan masyarakat Sunda yang masih menjaga nilai gotong royong menjadi modal utama pengembangan desa wisata berkelanjutan.
Di sisi budaya, Desa Cipada memiliki kekayaan seni tradisional seperti: Awi Gabeng, Singa Depok, Calung, tradisi kuliner lokal, hingga kearifan sosial masyarakat desa yang masih hidup dan terjaga. Kekayaan tersebut bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan identitas budaya yang memiliki nilai sejarah, filosofi, edukasi, hingga potensi ekonomi kreatif apabila dikelola secara profesional dan inovatif.
Namun di balik potensi besar tersebut, Desa Cipada masih menghadapi berbagai tantangan klasik desa wisata di Indonesia: keterbatasan aksesibilitas,
minimnya literasi digital,
lemahnya pemasaran produk,
belum optimalnya integrasi antara sektor wisata, budaya, UMKM, dan ekonomi kreatif, serta keterbatasan infrastruktur digital.
Akses menuju beberapa titik wisata masih membutuhkan peningkatan kualitas. Fasilitas penunjang wisata seperti papan informasi, pusat oleh-oleh, area parkir, dan jaringan internet juga belum sepenuhnya memadai.
Padahal di tengah perkembangan global digital tourism, wisata berbasis pengalaman lokal (local experience tourism) dan produk autentik desa justru menjadi tren dunia yang semakin diminati wisatawan domestik maupun mancanegara.
Transformasi Digital: Jalan Baru Membangun Kemanusiaan Desa
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Pascasarjana Poltekpar NHI Bandung mencoba menghadirkan solusi konkret melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat berbasis digital.
Kegiatan yang dihadiri pelaku UMKM, seniman tradisi, pengelola wisata, komunitas pemuda, hingga masyarakat umum itu dibuka pukul 09.20 WIB oleh pembawa acara Zulfa Faadyah.
Turut hadir memberikan sambutan: Kepala Desa Cipada I Ukin Sudaryana, Ketua Pokdarwis Desa Cipada Sugondo, serta dosen Pascasarjana Poltekpar NHI Bandung: Dr. Wawan Gunawan
dan Dr. Sukmadi. Keduanya sekaligus menjadi narasumber utama dan evaluator akademik kegiatan.
Dalam pemaparannya, Dr. Wawan Gunawan menegaskan bahwa desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan panorama alam semata. Desa harus mampu membangun narasi budaya, identitas lokal, ekonomi kreatif, pemberdayaan masyarakat, serta pengalaman wisata yang memiliki karakter kuat dan autentik.
Sebagai akademisi, seniman budaya, dan konseptor pariwisata budaya yang berpengalaman mendampingi berbagai desa wisata di Nusantara, ia menekankan bahwa seni tradisi tidak boleh hanya menjadi dekorasi seremonial, tetapi harus dihidupkan sebagai kekuatan ekonomi budaya yang mampu menciptakan lapangan kerja, regenerasi budaya, dan daya tarik wisata berkelas.
Menurutnya, budaya lokal harus diolah menjadi identitas ekonomi yang memiliki nilai global tanpa kehilangan akar tradisinya.
“Dunia saat ini bergerak sangat cepat dalam arus digitalisasi. Teknologi bukan ancaman, tetapi harus menjadi mitra masyarakat dalam mengembangkan potensi wisata, budaya, dan UMKM desa. Digitalisasi mampu membantu penguatan konsep, desain produk, promosi, pemasaran, hingga perluasan jejaring pasar secara cepat dan luas,” ungkapnya.
Sementara itu, Dr. Sukmadi menekankan pentingnya keberlanjutan model bisnis digital UMKM desa.
Menurutnya, transformasi digital bukan hanya soal penggunaan teknologi, tetapi perubahan pola pikir masyarakat agar mampu membaca perilaku pasar modern, meningkatkan kualitas pelayanan, membangun konsistensi produk, serta mengembangkan sistem ekonomi desa yang profesional.
“Marketplace desa harus menjadi ruang ekonomi bersama yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan dikelola secara berkelanjutan,” tegasnya.
Ketika Smartphone Menjadi Senjata Baru UMKM Desa
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah pelatihan Foto Produk dengan Smartphone yang dibawakan Disya Shafa Azizah, Zulfa Faadyah, dan Falah Muhammad Abdan S.
Dalam sesi ini, pelaku UMKM diperkenalkan pada strategi pemasaran visual digital. Mereka diajak memahami bahwa kualitas promosi tidak selalu ditentukan alat mahal, tetapi oleh kreativitas, pencahayaan, sudut pengambilan gambar, komposisi visual, hingga kemampuan membangun cerita produk (storytelling product).
Suasana pelatihan berlangsung sangat hidup, hangat, dan penuh antusiasme. Para peserta tampak aktif berdiskusi, mencoba teknik fotografi produk secara langsung menggunakan telepon genggam masing-masing, serta mendapatkan pendampingan intensif dari mahasiswa Pascasarjana.
Momentum ini menjadi gambaran nyata konsep kampus berdampak, ketika ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat sebagai solusi nyata pembangunan. Teh Ela dari Kampung Lembang, pelaku UMKM makanan ringan khas Cipada seperti Comring atau Combro Garing, mengaku mendapatkan perspektif baru tentang pemasaran digital.
“Biasanya saya asal memotret produk. Setelah ikut pelatihan ini ternyata pencahayaan alami, sudut foto, dan tampilan produk sangat mempengaruhi nilai jual. Produk sederhana ternyata bisa terlihat premium,” ujarnya sambil menunjukkan hasil foto produknya dengan penuh bangga.
Hal serupa disampaikan Siti Sofiah, pengrajin kuliner tradisional Cimet atau Aci Saemet berbahan dasar singkong dari Kampung Dano. Menurutnya, digitalisasi membuka peluang baru agar kuliner khas desa tidak kalah bersaing dengan produk modern.
Deni Sopari, pengolah sekaligus penjual Kopi Arabika Burangrang Selatan (Bursel), juga mengungkapkan optimismenya.
“Kopi Arabika Cipada punya karakter rasa yang khas. Dengan adanya marketplace desa, kami optimistis kopi lokal bisa semakin dikenal pasar nasional hingga internasional,” katanya.
Antusiasme juga terlihat dari Nina Marlina dari Kampung Lapang, pembuat Kupat Tahu. Ia bahkan mulai memikirkan inovasi produk baru setelah mengikuti pelatihan.
“Siapa tahu nanti saya bisa membuat inovasi Kupat Tahu Garing atau ‘Kutaring’ dan memasarkannya lewat marketplace,” ujarnya disambut tawa hangat peserta.
Hal senada disampaikan Iip Nutripah dengan produk unggulan Cireng Jabrig serta Teh Yulian dengan produk Sorodot khas Cipada. Mereka merasa kegiatan ini membuka wawasan baru bahwa produk tradisional desa ternyata memiliki peluang besar apabila dikemas secara kreatif dan profesional.
Seni Budaya Bukan Sekadar Pertunjukan, Tetapi Identitas dan Masa Depan Desa
Dari sektor seni budaya, antusiasme juga sangat terasa.
Pipin Aripin, pelaku seni Awi Gabeng dari Kampung Cipare, menyampaikan kesan mendalam atas kegiatan tersebut.
Menurutnya, paparan Dr. Wawan Gunawan membuka perspektif baru tentang bagaimana seni budaya tradisional dapat dikembangkan menjadi atraksi wisata budaya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus menjaga identitas lokal.
“Paparan Dr. Wawan Gunawan sangat menarik dan memberikan inspirasi baru. Kami jadi memahami bahwa melestarikan seni budaya tidak cukup hanya mempertahankan bentuk lama, tetapi perlu inovasi, adaptasi, kolaborasi, dan implementasi nyata agar seni tetap hidup dan diminati generasi muda,” ungkapnya.
Ia juga menyadari bahwa membangun atraksi budaya ternyata membutuhkan proses panjang, konsistensi, manajemen, serta dukungan berbagai pihak.
Sementara itu, Ojo Sutisna, pelaku seni Singa Depok dari Kampung Gadog, mengaku sangat terkesan dengan pendekatan kegiatan yang tidak hanya bicara teori, tetapi memberikan solusi praktis bagi masyarakat.
“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat. Kami merasa diperhatikan dan diberikan harapan baru agar seni tradisi desa bisa berkembang dan dikenal lebih luas,” ujarnya.
Beberapa peserta lainnya juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menghadirkan semangat baru bagi masyarakat desa untuk lebih percaya diri menghadapi era digital.
Ada yang merasa baru pertama kali memahami pentingnya branding produk. Ada pula yang mulai menyadari bahwa budaya lokal memiliki nilai ekonomi tinggi apabila dikelola dengan baik.Yang paling terasa adalah tumbuhnya optimisme kolektif bahwa desa mampu berkembang tanpa harus kehilangan identitas budayanya.
Markeplace Desa: Dari Kampung Menuju Pasar Global
Pada sesi berikutnya, Pauzy Try Suryadi dan Andi Suwandi memandu demonstrasi penggunaan marketplace desawisatacipada.com.
Peserta diperlihatkan secara langsung bagaimana sistem marketplace bekerja dari berbagai perspektif pengguna:
pelanggan,.admin super, hingga admin join.
Mereka diajak memahami alur:
registrasi akun, pengunggahan produk, pemesanan, checkout, pembayaran, hingga proses pengiriman barang. Marketplace tersebut dirancang menjadi rumah digital bagi tiga sektor utama Desa Cipada:
Produk UMKM lokal, Paket wisata edukasi kopi, Atraksi seni budaya tradisional.
Konsep ini menjadi langkah strategis karena mampu mengintegrasikan ekonomi kreatif, budaya, pariwisata, dan digitalisasi ke dalam satu ekosistem pembangunan desa yang berkelanjutan.
Di tengah tantangan global seperti disrupsi ekonomi digital, perubahan perilaku wisatawan, dan persaingan pasar terbuka, model seperti ini menjadi solusi nyata agar desa tidak tertinggal dalam perubahan zaman.
Kolaborasi Menjadi Kunci Kebangkitan Desa
Kesuksesan kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk: PT. Bratasena Jaya Abadi, Djourney Indonesia, serta PT. Biru Inovasi Teknologi. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah desa, komunitas budaya, pelaku UMKM, dunia usaha, dan generasi muda menjadi bukti bahwa pembangunan desa tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.
Desa membutuhkan inovasi. Masyarakat membutuhkan adaptasi. Dan masa depan hanya dapat dibangun melalui kolaborasi yang kuat serta implementasi yang konsisten dan berkelanjutan.
Desa Yang Bergerak Menjemput Masa Depan
Pelatihan Digital Marketing dan peluncuran marketplace Desa Wisata Cipada bukan sekadar kegiatan akademik biasa. Ia adalah simbol perubahan. Simbol kebangkitan desa. Simbol bahwa ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, dan gotong royong dapat dipertemukan dalam satu gerakan besar pemberdayaan masyarakat.
Dari kaki Gunung Burangrang, Desa Cipada sedang belajar menata langkah menuju masa depan: membangun harapan dari aroma kopi, menghidupkan ekonomi dari tangan-tangan UMKM, serta menjaga jati diri budaya di tengah derasnya arus digital dunia.
Karena pada akhirnya, desa yang kuat bukanlah desa yang kehilangan tradisinya, melainkan desa yang mampu membawa warisan budayanya melangkah percaya diri menuju peradaban baru.
Inilah salah satu bukti nyata penguatan ketahanan desa melalui sinergi sektor pariwisata, budaya, UMKM, ekonomi kreatif, dan teknologi digital menuju pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.(*)



