Pemerintah Lakukan Upaya Sistemik Jaga Kondisi Ekonomi Saat Gejolak Global

LIPUTANBARU.COM//JAKARTA – Internasional Monetary Fund (IMF) dan World Bank (Bank Dunia) sama-sama menyatakan bahwa situasi ekonomi global masih menunjukkan ketidakpastian akibat kebijakan tarif dagang Amerika Serikat serta proteksionisme ketrat.

Informasi tersebut dirilis saat berlangsungnya pertemuan tahunan kedua lembaga yang berlangsung di Amerika Serikat, 13-16 Oktober lalu.

Kondisi perlambatan ekonomi global kini juga dipengaruhi oleh faktor konflik yang masih terjadi di sejumlah negara, seperti Ukraina-Rusia, Timur Tengah, atau baru-baru ini India-Pakistan.

Ketidakpastian ekonomi global sekarang pada akhirnya berimbas memicu tatanan stabilitas perekonomian di seluruh negara di dunia, termasuk di Amerika Serikat. Di ‘Negara Pama Sam’ sendiri pertumbuhan ekonomi juga melemah sehingga terjadi penurunan kondisi ketenagakerjaan dan konsumsi rumah tangga.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Politik Universitas Nasional, Profesor Yuddi Chrisnandi, menyebut, pemerintah saat ini memiliki upaya sistemik guna menghadapi kondisi ketidakpastian global untuk menjaga perekonomian nasional.

Yuddi menilai, Presiden Prabowo Subianto membangun hubungan baik dengan semua negara adidaya yang memiliki pengaruh besar ekonomi, seperti Cina, Rusia, Amerika Serikat, maupun Uni Eropa.

“Bahkan mendekati kembali negara-negara Timur Tengah untuk memperbesar investasinya di Indonesia,,” ujar Yuddi, Sabtu (25/10/2025).

Yuddi mengemukakan, rutinnya kunjungan diplomatik Presiden Prabowo ke berbagai negara serta forum internasional dicermati sebagai cara menghadapi gejolak kondisi global yang mempengaruhi ekonomi negara-negara dunia.

Menurut Yuddi, sebagian besar agenda yang dibahas dalam berbagai kunjungan kenegaraan itu adalah kerja sama perdagangan, peningkatan investasi, dan sektor pertahanan militer, untuk kepentingan nasional.

“Sebagai contoh, agenda pembicaraan dengan pemimpin Cina dan Amerika Serikat yang merupakan raksasa ekonomi dunia saat ini, Indonesia tidak membahas pentingnya stabilitas perdagangan dunia dan risiko gangguan distribusi rantai pasok material yang dibutuhkan pasar internasional. Namun lebih menekankan peningkatan investasi Cina di Indonesia yang saat ini tercatat melampaui angka Rp 578,8 triliun. Dengan Amerika, Indonesia menegosiasikan penurunan tarif dari 32 persen menjadi 19 persen berikut kesepakatan kerja sama dagang lainnya,” papar Yuddi.

Begitu juga pertemuan dengan pemimpin Rusia, lanjut Yuddi, hanya mengedepankan agenda kerja sama bilateral di bidang pertambangan dan energi dan tidak menyinggung penghentian konflik perang Rusia-Ukraina.

Yuddi mengatakan, pemerintah Indonesia juga gigih mengajak para pemimpin negara kawasan Timur Tengah untuk menanamkan investasinya, antara lain melalui Daya Anagata Nusantara (Danantara).

“Dari rangkaian perjalanan diplomasi luar negeri Presiden Prabowo, tercatat Rp 942,9 triliun investasi dihasilkan pada semester I per tahun 2025 atau sekitar 49,5 persen dari target komitmen investasi 1. Rp 905,6 triliun serta menyerap sekitar 1,25 juta tenaga kerja.,” tukas Yuddi.

Yuddi menuturkan, pemerintahan Presiden Prabowo menghadapi tantangan dan tanggung jawab perekonomian yang berat di setahun pemerintahannya akibat ketidakpastian situasi global dan kebutuhan perbaikan berbagai sektor yang berpengaruh terhadap perkembangan investasi asing, perdagangan luar negeri, dan tumbuhnya industrialisasi.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *