
Oleh: Ki Dalang Wawan Ajen
Inspirasi dari Epos Mahabharata dan Filsafat Pewayangan Nusantara
Bubuka
Murwasuci menggema agung
Malam turun perlahan di atas langit Astinapura.
LIPUTANBARU.COM, Angin berembus dari tepian Gangga, menyapu dedaunan yang berguguran di halaman istana. Lampu-lampu minyak menyala di serambi kerajaan, tetapi cahaya itu seolah tak mampu mengusir gelap yang mulai menyelimuti hati para penghuninya.
Sebab sesungguhnya, kegelapan tidak selalu datang bersama malam.
Kadang ia lahir dari keserakahan.
Kadang tumbuh dari ambisi yang tak terkendali.
Kadang menjelma menjadi kekuasaan yang kehilangan nurani.
Di singgasana Astina duduk seorang raja bernama Duryudana.
Tubuhnya tegap. Wibawanya besar. Pasukannya kuat. Istananya megah.
Namun di balik segala kemegahan itu, ada satu pertanyaan yang terus berbisik dari mulut rakyat, dari lorong-lorong pasar, dari padepokan para resi hingga dari hati para ksatria:
“Benarkah takhta itu miliknya?”
Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar mati.
Karena rakyat mengetahui sejarah.
Mereka tahu bagaimana jalan menuju singgasana itu dibangun.
Bukan dengan kejujuran.
Bukan pula dengan kebijaksanaan.
Melainkan dengan tipu daya yang dirancang oleh Sangkuni, sang ahli siasat yang cerdas tetapi kehilangan arah kebijaksanaan.
Seperti laba-laba yang menenun jaring, Sangkuni merangkai intrik demi intrik.
Kebenaran dipelintir menjadi kebohongan.
Keadilan ditukar dengan kepentingan.
Hukum dijadikan alat.
Kekuasaan dijadikan tujuan.
Dan akhirnya Duryudana naik ke singgasana Astina.
Namun ada satu hal yang tidak pernah dapat direbut oleh tipu daya:
Legitimasi hati rakyat.
Karena di luar istana, jauh dari kemegahan mahkota dan gemerlap kekuasaan, hidup seorang ksatria yang berbeda.
Namanya Darma Kusumah.
Sebagian mengenalnya sebagai Samiaji.
Sebagian menyebutnya Yudistira.
Putra sulung Pandawa.
Penjelmaan keteguhan hati.
Perwujudan kejujuran.
Lambang kebenaran yang tidak pernah berteriak, tetapi selalu terdengar.
Darma Kusumah tidak memiliki pasukan sebanyak Duryudana.
Tidak memiliki penasihat licik seperti Sangkuni.
Tidak memiliki jaringan kekuasaan yang kuat.
Tetapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih besar.
Ia memiliki kepercayaan rakyat.
Ia memiliki ketulusan.
Ia memiliki nurani.
Dan sejarah selalu mencatat bahwa kekuasaan dapat dibangun oleh kekuatan, tetapi peradaban hanya dapat dibangun oleh kejujuran.
Dalang memainkan gunungan sambil bersenandung sulukan
“Hanjrah kang puspita arum, kasliring samirono mrih, sekar gadung kongas gandanyo, maweh laras renaning driya”
Pada suatu malam, Resi Bisma berdiri memandangi langit Astina.
Bintang-bintang bertebaran seperti doa-doa yang menggantung di langit.
Di sampingnya berdiri Dewi Kunti.
Mereka berdua diam.
Karena terkadang orang-orang bijaksana tidak membutuhkan banyak kata untuk memahami kenyataan.
Resi Bisma menarik napas panjang.
“Kerajaan ini besar,” katanya pelan.
“Tetapi kebesarannya mulai kehilangan arah.”
Dewi Kunti menundukkan kepala.
“Kebenaran sedang diuji, Eyang Resi.”
Bisma mengangguk.
“Ya. Tetapi sejarah selalu memiliki caranya sendiri untuk mengembalikan keseimbangan.”
Malam semakin larut.
Di kejauhan terdengar gamelan lirih mengalun seperti suara semesta yang sedang bersuluk.
Dalang kembali memukul kotak dengan cempala yang mengetar pilu diiringi suara kecrek yang beringas, mengiringi suluk dengan lantang.
“Bumi gonjang ganjing langit kêlap-kêlip ,
katon lir kincanging alis risang mawèh gandrung ,
sabarang kadulu wukir moyag-mayig ,
saking tyas baliwur lumaris anggandrung……..”
Sementara itu, di balairung Astina, Duryudana duduk di atas singgasana
Namun semakin tinggi Duryudana duduk di atas singgasana emas Astina, semakin berat pula beban yang menekan dadanya.
Mahkota dapat menutupi kepala.
Jubah kebesaran dapat menyembunyikan kegelisahan.
Gemerlap istana dapat mengaburkan kenyataan.
Para penjilat dapat memuji tanpa henti.
Para pengawal dapat menjaga setiap pintu.
Para patih dapat membangun tembok kekuasaan setinggi langit.
Tetapi tidak satu pun mampu membungkam suara hati.
Tidak satu pun mampu menghalangi bisikan nurani.
Tidak satu pun mampu menghapus nama yang terus hidup dalam ingatan rakyat.

Setiap malam, ketika pesta dan kemegahan telah usai, ketika tabuh genderang perang telah berhenti, ketika para punggawa telah kembali ke kediamannya masing-masing, dan ketika lorong-lorong istana mulai tenggelam dalam kesunyian, Duryudana sering terjaga seorang diri.
Di dalam kamar kebesarannya yang megah, ia memandang nyala lampu minyak yang bergetar diterpa angin malam.
Dan pada saat itulah suara-suara yang selama ini bersembunyi di balik hiruk-pikuk kekuasaan mulai terdengar.
Bukan suara pasukan.
Bukan suara patih.
Bukan pula suara para pengawal.
Melainkan suara yang datang dari jauh.
Suara yang melintasi tembok-tembok istana.
Suara yang menembus lapisan kesombongan.
Suara yang lahir dari hati rakyat.
Satu nama terus bergema.
Darma Kusumah.
Yudistira.
Samiaji.
Nama itu mengalir bersama desir angin malam.
Menyusup melalui jendela-jendela istana.
Membelah sunyi yang selama ini berusaha ia pelihara.
Darma Kusumah.
Yudistira.
Samiaji.
Nama itu tidak diteriakkan.
Namun terdengar di mana-mana.
Ia hidup dalam percakapan para petani yang menggarap sawah sejak fajar menyingsing.
Ia hadir dalam doa-doa para ibu yang menumbuk padi di halaman rumah.
Ia bergaung di bawah rindangnya pohon beringin tempat para sesepuh desa berkumpul.
Ia menjadi harapan yang diam-diam disimpan rakyat di dalam dada.
Di pasar-pasar Astina, para pedagang membicarakannya.
Bukan karena kekayaannya.
Bukan karena kekuasaannya.
Melainkan karena kejujurannya.
Mereka mengenang bagaimana Samiaji tidak pernah mengingkari janji.
Bagaimana ia lebih memilih kehilangan kemenangan daripada kehilangan kebenaran.
Bagaimana ia lebih takut melukai hati rakyat daripada kehilangan kemuliaan dunia.
Di hamparan sawah yang luas membentang seperti permadani hijau kerajaan, para petani menyebut namanya ketika matahari mulai condong ke barat.
Mereka berkata bahwa negeri akan menjadi tenteram apabila dipimpin oleh orang yang memahami arti lapar.
Orang yang memahami arti kerja keras.
Orang yang mengerti bahwa setiap bulir padi tumbuh bukan hanya oleh air dan tanah, tetapi juga oleh keadilan.
Di padepokan-padepokan para resi, nama Darma Kusumah disebut dalam perenungan panjang.
Para pertapa yang menghabiskan hidupnya mencari hakikat kebenaran melihat pada dirinya cahaya yang jarang ditemukan dalam diri seorang calon raja.
Cahaya ketulusan.
Cahaya kesabaran.
Cahaya keikhlasan.
Mereka memahami bahwa kebijaksanaan tidak selalu lahir dari mereka yang paling kuat.
Sering kali justru lahir dari mereka yang paling mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Dan yang paling menggelisahkan Duryudana adalah kenyataan bahwa nama itu tidak hanya hidup di pasar, di sawah, atau di padepokan.
Nama itu hidup di dalam hati rakyat.
Seperti mata air yang tak pernah kering.
Seperti doa yang terus dipanjatkan.
Seperti cahaya kecil yang tetap menyala meski diterpa badai zaman.
Semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas nama itu terdengar.
Semakin ia berusaha menenggelamkannya dengan kemegahan istana, semakin tinggi gema itu menjulang.
Karena kekuasaan dapat memerintah tubuh manusia.
Tetapi hanya keteladanan yang mampu memimpin hati manusia.
Kekuasaan dapat membangun istana yang megah.
Tetapi kejujuran membangun kerajaan di dalam jiwa rakyat.
Kekuasaan dapat memaksa orang tunduk.
Tetapi kebenaran membuat manusia rela mengikuti.
Dan pada malam-malam yang paling sunyi, ketika bahkan suara jangkrik terasa begitu jelas terdengar, Duryudana mulai menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan.
Bahwa takhta dapat direbut.
Mahkota dapat diwariskan.
Kekuasaan dapat dipertahankan dengan pasukan.
Tetapi cinta rakyat tidak pernah dapat dipaksa.
Ia hanya dapat diperoleh oleh mereka yang setia kepada kebenaran.
Dan setiap kali nama Darma Kusumah bergema dari segala penjuru Astina, sesungguhnya yang didengar Duryudana bukanlah nama seorang manusia.
Melainkan gema nurani yang selama ini berusaha ia kubur di dalam dirinya sendiri.

Duryudana mulai menyadari sesuatu.
Bahwa ada perbedaan besar antara ditakuti dan dihormati.
Orang dapat memaksa rakyat tunduk.
Tetapi tidak pernah dapat memaksa rakyat mencintai.
Berbeda dengan Duryudana,
Darma Kusumah hidup sederhana.
Ia lebih sering mendengar daripada berbicara.
Lebih sering bermuhasabah daripada menyalahkan.
Lebih sering memikirkan kesejahteraan rakyat daripada keselamatan dirinya sendiri.
Duryudana yang mengukur kebesaran melalui luasnya wilayah kekuasaan dan tingginya singgasana, Darma Kusumah justru mengukur kemuliaan melalui seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.
Darma Kusumah sering mendengar
Karena ia tahu bahwa telinga yang terbuka sering kali lebih berharga daripada mulut yang terus berkata-kata.
Ia lebih sering bermuhasabah daripada menyalahkan.
Sebab ia percaya bahwa memperbaiki diri sendiri jauh lebih sulit daripada mencari kesalahan orang lain.
Ia lebih sering memikirkan kesejahteraan rakyat daripada keselamatan dirinya sendiri.
Baginya, seorang pemimpin bukanlah orang yang harus dilayani.
Pemimpin adalah orang yang paling dahulu merasakan derita rakyatnya.
Darma Kusumah
Yang paling awal bangun ketika rakyat gelisah.
Dan yang paling akhir beristirahat ketika rakyat belum menemukan kebahagiaan.
Pada banyak malam yang sunyi, ketika para bangsawan Kurawa Astina larut dalam pesta dan kemewahan
Darma Kusumah justru duduk seorang diri di beranda sederhana.
Tanpa kekuasaan, tanpa mahkota
Menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit.
Mendengarkan desir angin yang melintasi pepohonan.
Menyimak suara alam yang seolah sedang membisikkan pelajaran-pelajaran kehidupan.
Ia tidak sedang memikirkan bagaimana meraih dan memiliki kekuasaan.
Ia tidak sedang menghitung berapa banyak pengikut yang dimilikinya.
Ia tidak sedang merancang tipu daya untuk menyingkirkan lawan-lawannya.
Yang memenuhi pikirannya hanyalah satu pertanyaan sederhana:
“Bagaimana agar rakyat Astina hidup lebih baik daripada hari ini?”
Pertanyaan itulah yang terus hidup di dalam dadanya.
Pertanyaan yang tidak pernah membiarkannya tidur terlalu nyenyak.
Pertanyaan yang selalu membangunkannya ketika melihat ketidakadilan.
Karena bagi Darma Kusumah, seorang pemimpin tidak diangkat untuk menikmati kemuliaan.
Ia diangkat untuk memikul beban kehidupan rakyatnya.
Dalang kembali memainkan gunungan hakikat sambil suluk bersenandung.
“Lilir ya merbangunan kaya wong ngimpen sare, sarena amung saleunyapan…..”
Pocapan dalang:
Di dalam benaknya Darma Kusumah terlukis sebuah Astina yang berbeda.
Sebuah negeri yang tidak hanya megah pada bangunan istananya.
Tetapi juga mulia pada akhlak manusianya.
Sebuah negeri yang tidak hanya kaya oleh emas dan permata.
Tetapi juga kaya oleh ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.
Ia membayangkan Astina sebagai negeri yang makmur.
Gemah ripah loh jinawi.
Sawah-sawahnya menghijau sepanjang musim.
Sungai-sungainya mengalir jernih membawa kehidupan.
Ladang-ladang menghasilkan panen yang melimpah.
Para petani tersenyum ketika matahari terbit.
Para nelayan pulang dengan perahu yang sarat hasil tangkapan.
Para pedagang berdagang dengan tenang tanpa rasa takut.
Dan anak-anak bermain riang tanpa dihantui masa depan yang suram.
Namun kemakmuran bagi Darma Kusumah bukan sekadar banyaknya hasil bumi.
Kemakmuran sejati adalah ketika rakyat hidup bermartabat.
Ketika tidak ada lagi yang merasa lapar di tengah melimpahnya pangan.
Ketika tidak ada lagi yang menangis karena tidak mampu berobat.
Ketika tidak ada lagi anak bangsa yang terpaksa berhenti belajar karena kemiskinan.
Darma Kusumah membayangkan pendidikan menjadi cahaya yang menerangi seluruh penjuru Astina.
Bukan hanya untuk anak para bangsawan.
Bukan hanya untuk keturunan istana.
Tetapi juga untuk anak-anak petani, nelayan, pedagang kecil, dan rakyat biasa.
Baginya, ilmu adalah matahari.
Semakin banyak orang mendapatkannya, semakin terang masa depan negeri.
Ia bermimpi melihat padepokan-padepokan ilmu berdiri megah.
Para guru dihormati sebagaimana para ksatria dihormati.
Para cendekiawan dimuliakan sebagaimana para panglima dimuliakan.
Anak-anak muda yang cerdas mendapat dukungan negara untuk mengembangkan pengetahuan dan pengabdiannya.
Karena Darma Kusumah memahami bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak terletak pada banyaknya senjata.
Melainkan pada kualitas manusia yang dimilikinya.
Ia percaya bahwa seorang ilmuwan yang jujur mampu membangun peradaban yang lebih kokoh daripada seribu pasukan perang.
Ia membayangkan para pemuda Astina tumbuh menjadi generasi yang kuat.
Bukan hanya kuat raganya.
Tetapi juga kuat pikirannya.
Kuat iman dan akhlaknya.
Kuat integritasnya.
Generasi yang berani bermimpi besar tanpa kehilangan akar budayanya.
Generasi yang mampu menguasai ilmu pengetahuan tanpa kehilangan kemanusiaannya.
Generasi yang mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan kebijaksanaannya.
Baginya, pemuda adalah benih masa depan.
Jika benih itu dirawat dengan baik, maka negeri akan menuai kejayaan.
Namun jika benih itu dibiarkan layu, maka masa depan akan ikut mengering.
Ia juga membayangkan Astina sebagai negeri yang menjunjung tinggi keadilan.
Sebuah negeri di mana hukum tidak tunduk kepada kekuasaan.
Melainkan kekuasaan yang tunduk kepada hukum.
Sebuah negeri di mana rakyat kecil dapat berdiri tegak di hadapan pejabat tinggi tanpa rasa takut.
Sebuah negeri di mana kebenaran tidak dapat dibeli dengan emas.
Dan keadilan tidak dapat diperjualbelikan oleh jabatan.
Karena baginya, keadilan adalah tiang utama peradaban.
Jika tiang itu rapuh, maka seluruh bangunan negeri akan runtuh meskipun tampak megah dari luar.
Yang paling indah dari semua impian Darma Kusumah adalah bahwa ia tidak pernah memimpikannya untuk dirinya sendiri.
Ia tidak membayangkan dirinya dikenang sebagai raja terbesar.
Ia tidak mengejar kemasyhuran.
Ia tidak haus pujian.
Ia tidak ingin namanya diukir dengan huruf emas pada dinding istana.
Ia hanya ingin melihat rakyat Astina tersenyum.
Hanya itu.
Karena baginya, senyum rakyat adalah mahkota yang sesungguhnya.
Doa rakyat adalah benteng yang sesungguhnya.
Dan cinta rakyat adalah singgasana yang paling kokoh di muka bumi.
Itulah sebabnya mengapa nama Darma Kusumah terus hidup dari generasi ke generasi.
Bukan karena kekuatan pedangnya.
Bukan karena luas kerajaannya.
Melainkan karena keluasan hatinya.
Karena sejarah pada akhirnya selalu memberi tempat terhormat kepada mereka yang mencintai rakyat lebih besar daripada mencintai kekuasaan.
Dan Darma Kusumah adalah salah satu dari sedikit manusia yang memahami bahwa seorang pemimpin sejati bukanlah mereka yang berhasil naik ke atas takhta.
Melainkan mereka yang mampu menempatkan kepentingan rakyat lebih tinggi daripada kepentingan dirinya sendiri.
Dalang menutup cerita
“Kembang pinetik sinebaran sari tutup lawang sigotaka”
Tancap kayon
Keterangan penulis
**Pendiri, pengasuh sekaligus konseptor karya seni di Sanggar Seni Wayang Ajen Diversity domisili di Kota Bekasi, Jawa Barat



